Kamis, 20 November 2014

Mengapa Pelit?

Saya tidak bisa lupa dengan kejadian pada hari jumat, tanggal 14 November 2014, pukul 08:05.
Bukan karena saya sedang ulang tahun atau sedang merayakan suatu prestasi. Tapi, pada hari itu adalah pertama kalinya dalam sejarah saya diusir oleh seorang dosen. :)

Mungkin terdengar lucu, tapi apa hubunganya dengan judul tulisan saya ini? Memang sekilas tidak ada hubunganya sih hehe. Itu karena saya memang belum menyelesaikan cerita saya. Okey saya lanjutkan ceritanya (hehe maaf nih jadi curhat).

Jadi pagi itu saya melihat jadwal kuliah yang sudah saya catat dengan rapi di binder saya. Di catatan saya terjadwal pada hari jumat, tanggal 14 November 2014, pukul 08:10 ada mata kuliah English for Children. saya berangkat dengan semangatnya ke kampus pagi itu.

Saya sampai di kampus pukul 08:05, saya lansung menuju kelas. Dan tentu saya tidak telat sama sekali -- Pikir saya. Tapi, yang saya dapati adalah mata kuliah tersebut sudah akan berakhir dan seluruh teman saya mengikuti mata kuliah tersebut. Waw!

Saya tetap memohon izin untuk mengikuti mata kuliah tersebut dengan mengetuk pintu dan senyum takut.
"Loh, kenapa baru datang?!" tanya dosen saya ketika saya baru masuk beberapa langkah.
Saya hanya senyum karena bingung, karena seharusnya saya tidak telat, dan nyatanya saya sangat telat sekali.
"Ikut kelas berikutnya saja! Kelas ini mau selesai, biar tidak se-enaknya sendiri" Dosen saya melanjutkan perkataanya.
Saya hanya bisa pasrah dan kecewa dalam kondisi itu.

Yang saya kecewakan adalah kenapa hanya saya yang tidak tahu dengan adanya jadwal yang diubah dosen secara semena-mena itu?
Saya sangat paham bagaimana proses informasi di kelas saya menyebar. Pasti lewat SMS, BBM, FB, WA dll. Lalu kenapa hanya saya yang tidak mendapat info? Padahal nomor ponsel saya tidak pernah ganti dan bahkan banyak teman-teman di kelas yang mengetahui nomor ponsel saya.

Padahal saya selalu share info apapun seputar perkuliahan. Saya juga suka bersosialisasi dengan membantu teman yang membutuhkan bantuan saya. Kalau saya ada rizki walaupun sedikit pasti saya bagi. Pinjam uang pasti saya pinjami kalau saya punya dll.

Saya bukan mengungkit-ungkit, justru saya sedang introspeksi diri. kenapa hanya saya yang diperlakukan seperti itu? kenapa saya tidak mendapat info apapun?

Yang lebih saya sesalkan adalah teman akrab saya malah menyalahkan saya karena saya tidak memakai BB atau Smart Phone. Saya tanyakan kepda teman akrab saya, memang salahnya apa kalau tidak pakai BB atau Smart Phone? Dan jawabanya sangat mengejutkan saya.
"SMS kan mahal" katanya dengan nada santai.
Masyaallah, padahal saya sering membantunya tanpa menyatakan mahal atau murah. Berapapun yang mereka perlukan, saya pasti bantu kalau saya mampu. Saya tidak pernah mengungkit-ungkit mahal atau murah kepada semua teman saya.

Pertanyaan saya selanjutnya, berapa harga satu SMS termahal? Seribu Rupiah kah? atau Lima Ribu Rupiah? Karena setahu saya harga satu SMS termahal adalah hanya Rp. 450,-

"Kemana teman saya yang satu ini? Kok belum datang ya? Sudah tahu infonya apa belum yah?" itu adalah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan oleh teman-teman akrab saya kepada dirinya sendiri.
Bukan malah santai dan acuh!

"Mengapa mereka pelit?" itu adalah pertanyaan saya kepada tuhan ketika selesai sholat dhuhur.
Sekarang, kejadian itu sudah berlalu seminggu dari saya menulis artikel ini. Dan belum ada kata maaf apapun dari mereka.

Ckckck hemm
#predikat teman baik kah?

0 comments: