Rabu, 06 September 2017

Praktik bullying yang tidak disadari

Laki-laki jodohnya ya Perempuan.
Seperti kita, aku Laki-laki dan kamu Perempuan.
Secara gender sudah cocok, kamu jodohku.
Tapi dalam urusan hati dan kecintaan ...... ?
Hemm... Selalu misteri.
Laki-laki dikaruniahi 4 detik untuk mampu memutuskan suka terhadap seseorang. Dan Perempuan dikaruniahi teliti dalam memilih pasangan. Mungkin sebagian orang ada yang mempermasalahkan kosa kata “Memilih” pada kalimat sebelumnya.
“Mas, cewek tuh gak pernah memilih. Mereka cuma bisa menerima!”
Mungkin gitu kata para cowok. Memang sih dalam urusan perjodohan di Dunia, keBANYAKan kalau tidak dijodohkan pasti cowok yang mendahului. Itu sebabnya cowok merasa bisa memilih, sedangkan cewek tidak mau menggunakan hak memilihnya.
Kembali pada kalimat awal “Laki-laki jodohnya ya Perempuan.”
Kalimat itu sudah pakem, seluruh alam pasti menganggap benar. Yang tidak pakem adalah urusan hati dan kecintaan. Saking tidak pakemnya sering kita jumpai anak-anak muda menikah dengan orang yang sudah tua bahkan usia kakek/nenek.
Artinya urusan hati dan kecintaan adalah urusan sang pemilik naskah alam semesta. Memang dari hati dan kecintaanlah Allah mengatur jodoh seseorang. Dari sini kita harus belajar menyadari bahwa menikahnya seseorang adalah acara yang agung, yang sudah di rencanakan oleh Allah. Mungkin kita pernah menyaksikan seseorang akan menikah dan Allah menghandaki sebaliknya. Entah pasanganya kecelakaan, meninggal, diserobot orang lain, tetangga gak setuju, orangtua gak cocok, bahkan bayar prasmanan kurang pun bisa jadi batalnya seseorang menikah.
Apa yang saya maksudkan dalam tulisan saya kali ini? Yang saya maksudkan adalah stop bullying kepada orang yang belum menikah. Karna hakikihnya mereka juga ingin menikah dan hidup normal. Mereka masih berusaha mewujudkan pernikahan mereka dangan ijin Allah, bukan tidak mau menikah.
“Kapan nikah?”
“Katanya mau nikah?”
“Nunggu apa, Bro?”
“Gak laku luh!”
“Lagi miskin yaa!”

Mungkun terdengar lelucon, tapi saya yakin orang yang berkata seperti kata-kata di atas adalah orang-orang yang pernah mengalami deritanya. Tapi, kenapa? Kenapa mereka melakukanya? Toh memahami dan empati lebih baik.

0 comments: