Minggu, 06 April 2014

Jejak Kecilku yang Hilang

Waw, Saya baru tahu, ternyata kota Malang adalah kota yang layak huni no. 5, pantas saja banyak orang yang datang ke Malang hanya untuk mencari tempat tinggal. Selain layak huni, ternyata kota Malang juga kota yang baik untuk berbisnis, maklum, pendatang dikota malang selalu naik tiap tahunnya, pantas saja banyak investor yang membangun hotel-hotel, penginapan, tempat wisata, dan yang paling terbaru adalah apartemen, sedangkan warga lokal banyak yang membangun kontrakan, kos-kosan, ruko dan warung-warung.
Sehingga pembangunan-pembangunan di kota Malang sangat pesat sekali, therefore, banyak sekali lahan-lahan tempat Saya bermain sewaktu kecil dulu HILANG, disini Saya ingin bercerita tentang kampung Saya, yaitu kampung Kedawung, tepatnya Kedawung gang IX, rumah saya dekat dengan gang masuk kampung, dekat dengan jalan raya yang menghubungkan wilayah sekitar Malang timur dan jalan soekarno hatta, sebetulnya rumah saya dahulu berada di tengah-tengah kampung kedawung ini, namun karena tuntutan ekonomi, rumah Saya yang berada di tengah-tengah kampung kedawung ini terpaksa dijual oleh bapak, sayang sekali memang, tapi apa boleh buat. Banyak sekali memory saya tentang kampung ini, tapi ketika Saya kembali dari sekitar 5 tahun saya meninggalkan kampung ini, semuanya berubah. Banyak sekali teman-teman Saya yang hilang dari kampung ini, banyak tempat-tempat Saya bermain yang hilang dan juga mulai banyak rumah-rumah kumuh dipinggiran sungai.
Semua teman Saya  rata-rata menghilang dikarenakan keluar Malang untuk mencari pekerjaan, begitu sulit mencari pekerjaan di kota yang semakin padat penghuni ini, persaingan bukan hanya ketat tapi juga kotor, itu artinya sejak Saya kembali kekampung ini, Saya tidak lagi memiliki teman. Keseharian saya hanyalah bekerja dan setelah bekerja Saya hanya lebih banyak di kamar, jika hari libur kerja maka Saya adalah penghuni kamar sejati sehari itu, sampai-sampai Ibu saya sering menyuruh saya keluar kamar hehe... yang kowar-kowar malah Ibu, soalnya kata Ibu pamali cowok sukanya di kamar aja, hadeeh, katanya itu sifat cewek, jadi cowok tidak boleh lama-lama di kamar.
Suatu hari Saya menuruti perkataan Ibu, Saya putuskan untuk jalan-jalah di kampung dalam saja, dan benar saja apa yang Saya prediksikan, banyak sekali penghuni baru di kampung ini yang tidak Saya kenal, mereka begitu acuh, membuat Saya semakin malas keluar rumah saja, jiwa sosial di kampung ini semakin hilang, seluruh sampah rumah tangga dibuang di sungai, mereka hanya diam melihat jalan bahkan halaman mereka kotor, sejak Saya kembali ke kampung ini saya menyaksikan belum ada acara kerja bakti seperti dahulu yang sering digembor-gemborkan sewaktu Saya berumur belasan, begitu kotor kampung ini sekarang.
Saya juga sempat memfoto beberapa tempat di kampung ini ketika saya menyusurinya, berikut foto dan penjelasannya :
hemm inilah pohon bambu yang tersisah, karena hanya satu-satunya pohon bambu disini Saya menyebutnya monumen kejayaan bambu, dulu tempat ini adalah deretan pohon bambu seperti hutan bambu gitu lah, dulu ada banyak sekali burung khas yang tinggal di daerah hutan bambu ini, warnanya hitam dan putih, kakinya saja yang berwarna orange, teman-teman Saya menyebutnya burung ketruwok, tapi sekarang sudah punah, bahkan pohon-pohon bambu tempat tinggal burung ketruwok ini juga sudah hilang dan berganti rumah-rumah warga,
to be continued

0 comments: