Kamis, 17 November 2016

Pengajar Antipati

kita mungkin pernah nemu jenis dosen yang kayak gini, yang dalam keadaan sadar atau ga sadar minta menangnya sendiri. Bahkan seperti lupa perna menjadi mahasiswa.
A : Kamu itu Mahasiswa! Ada “maha”nya. Seharusnya kamu itu !@#$%/?^&*...etc
B : Iya, Bu. Mau saya tadi begitu. Tapi ternyata mesin printnya ngadat, belum lagi macet dan ujan, jilidnya antri .....etc
A : Alah, Gak usah banyak alasan kamu, kan semua itu bisa direncanakan toh!
B : ._. (Tetap Tuhan penentunya, Bu)

Kadang ada juga yang horor.
A : Kamu kurang ini, ini, dan ini. Seharuusnya kamu begini, begini, begini....ect.(Komplit). Segera revisi biar gak lupa!
B : Iya Bu, pasti langsung saya revisi.
(A few minutes, after revision)
B : Sudah selesai, Bu. (dengan PDnya)
A : Loh, kok begini. Siapa yang nyuruh kamu ngerjain kaya gini? Saya gak pernah ajarkan seperti ini, kan? Kamu revisi lagi!
B : ´(_)` (suprised! Kaget, dan Merinding. Sambil berbisik ke teman sebelah) Bro, beberapa menit lalu elu liat wanita yang lagi bicara ama gue gak?.

Ada juga yang judes.
A : Kamu itu kurang belajar dan berusahanya. (karna satu kesalahan langsung main justifikasi)
B : oh Itu, soalnya tadi ....
A : Gak usah curcol kamu! (langsung memotong pembicaraan)
B : (^) cry, menangis
Siapa sih yang mau salah? Kita sudah berusaha banget padahal. Cuma satu kesalahan seolah salah total.
Sebagai mahasiswa terkadang kita tidak tidur, lupa sarapan, lari-larian, ngantri, dll untuk memperjuangkan kemauan dosen. Tapi dosen tak pernah mau tau duka mahasiswanya. Sedangkan setiap kali dosen berbuat salah hanya berkata
Maaf ya, saya sedang ada urusan. (padahal cuma lagi liat youtube di Kantornya)
Maaf, saya kemarin lupa. (Padahal sudah 2 minggu menyerahkan proposalnya)
Maaf, saya tidak bisa hari ini. (Padahal cuma lagi mainan HP sampai sore)
Maaf, saya sedang keluar kota. (Padahal barusan kepergok 2 kali di Kampus)
Pasal berapa? PERDA yang mana? atau Undang-undang butir keberapa? yang mengatur ketidak adilan ini? Mahasiswa harus pengertian kepada dosen dan dosen tidak perlu pengertian kepada mahasiswa. Dosen selalu benar dan mahasiswa selalu salah.
Allah menitipkan kisah untuk setiap hambanya itu gak selalu sama. Karena itu semena-mena terhadap orang lain juga tidak selalu tepat. Sehingga Allah menciptakan yang namanya empati, untuk digunakan saat mendengar celetukan curcol saudara kita. Beberapa dari mereka bahkan tidak butuh solusi atau nasihat, terkadang mereka cuma butuh empati. Toh empati itu Allah kasih ke kita gratis, ketika kita memberi empati ke orang lain pun tidak lantas membuat kita miskin.

Wallahu Alam




0 comments: