Kamis, 17 November 2016

Primpen Vs Deficit

Kata orang (lebih tepatnya teman sih) dengan menulis dapat menjernihkan kepala yang sumpek. Jadi saya menulis tulisan ini deh. Siapa tahu bisa jernih beneran (walaupun sebenarnya emang doyan nulis)
Ceritanya abis jum’atan nih. Mumpung masih bersih, rapi, dan wangi. Sepulang jum’atan saya putuskan untuk mampir ke Kampus dulu deh. Semenjak semester akhir saya sangat jarang bahkan tidak pernah mengunjungi kampus.
Sesampai di Kampus, saya melihat fenomena “Campus Seldom event”, yaitu kejadian-kejadian yang sangat jarang terjadi di Kampus saya. Saya melihat banyak terop nikahan yang didirikan berbaris-baris memanjang menutupi muka kampus dan ternyata sampai wilayah dalam kampus (Btw bahasa indonesianya terop tuh apa sih? . . . hehe). Manusia bernama mahasiswa pun sangat banyak berkeliaran tidak seperti biasanya. Sempat saya menduga bahwa pasti ada acara anak rektor lagi nikahan di Kampus.
Saya ngobrol dengan tukang parkir langganan saya.
Ya ampuuun, Rame banget nih kampus, cak” (maksud saya ramenya gak kaya’ biasanya).
Wisuda Luck!” sahut tukang parkir.
Loh, berarti wisudanya anak-anak angkatanku, cak!
Gak tau luck, pokoknya angkatan 2012
Iya cak, itu anggkatanku” sambil lari ngacir menuju kantor jurusan.
Saya betul-betul tidak tahu kalau ankatan saya sudah harus wisuda. Sesampainya di Kantor kajur. Saya memeriksa dengan seksama papan pengumuman. Dan berdasarkan papan pengumuman yang saya rabah-rabah (untuk memastikan nama saya tertera) ternyata saya adalah salah satu mahasiswa yang diputuskan oleh dekan harus melakukan wisuda pada gelombang pertama.
***
Karena saking bingungnya saya bertanya banyak hal mengenai acara wisuda gelombang satu kepada semua teman-teman dan orang-orang yang baru saya kenal. Saya bertanya mulai syarat ikut wisuda, kelengkapan berkas, beberapa format-format, dll. Hufs, Syukurlah saya sudah nyiapkan semua berkas-berkas untuk kelenkapan wisuda. Padahal saya tidak tahu apa saja berkas yang harus saya siapkan. Baru ngeh fungsi primpen (primpen bahasa indonesianya naon teh?).
Alhamdulillah, saya bisa melengkapi semua keharusan untuk mengikuti wisuda gelombang pertama—Iya, semua!—Kecuali bayar biaya wisudanya ._. (please let me alone). Untuk urusan kelengkapan administrasi yang satu ini ujung-ujungnya saya harus menunda wisuda gelombang pertama dan mengikuti gelombang berikutnya.
Nb: serasa percuma punya sifat primpen kalau harus deficit terus . Segini saja lah nulisnya, jadi baper kepikiran deficit. T.T Belum lagi teriakan-teriakan para pembaca setia blog saya tentang ketidak pahaman mereka dengan kata-kata Primpen dan Terop. Sampai di sini dulu ya readers, thanks for read. Sampai jumpa ditulisan-tulisan tidak penting saya berikutnya.
Udah deh, gak usah ngeyel tanya artinya Primpen dan Terop. :p udah dipamitin juga.

Assalamu’alaikum.



0 comments: