Alun-Alun Kota Malang

Alun-alun Kota Malang yang terus berbenah.

Gunung Banyak

Gunung Banyak lebih dikenal dengan nama Paralayang, Batu

Perhutani

Hutan Milik Perhutani Kab. Malang

Pelatihan SAR

Pelatihan dari tim tanggap bencana kota Malang

Jalan-jalan sore

Setelah seharian kuliah, kami putuskan untuk jalan-jalan sebentar.

Wisata Petik Jeruk

Di Wisata Petik Jeruk ini, pengunjung diperkenankan seperti pemilik kebun sendiri.

Terimakasih sudah berkunjung

Saya ucapkan terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, mohon maaf jika banyak kurangnya dalam blog ini. Saya sangat berharap kritik dan saran dari Anda.

Kamis, 17 November 2016

Pengajar Antipati

kita mungkin pernah nemu jenis dosen yang kayak gini, yang dalam keadaan sadar atau ga sadar minta menangnya sendiri. Bahkan seperti lupa perna menjadi mahasiswa.
A : Kamu itu Mahasiswa! Ada “maha”nya. Seharusnya kamu itu !@#$%/?^&*...etc
B : Iya, Bu. Mau saya tadi begitu. Tapi ternyata mesin printnya ngadat, belum lagi macet dan ujan, jilidnya antri .....etc
A : Alah, Gak usah banyak alasan kamu, kan semua itu bisa direncanakan toh!
B : ._. (Tetap Tuhan penentunya, Bu)

Kadang ada juga yang horor.
A : Kamu kurang ini, ini, dan ini. Seharuusnya kamu begini, begini, begini....ect.(Komplit). Segera revisi biar gak lupa!
B : Iya Bu, pasti langsung saya revisi.
(A few minutes, after revision)
B : Sudah selesai, Bu. (dengan PDnya)
A : Loh, kok begini. Siapa yang nyuruh kamu ngerjain kaya gini? Saya gak pernah ajarkan seperti ini, kan? Kamu revisi lagi!
B : ´(⊙_⊙)` (suprised! Kaget, dan Merinding. Sambil berbisik ke teman sebelah) Bro, beberapa menit lalu elu liat wanita yang lagi bicara ama gue gak?.

Ada juga yang judes.
A : Kamu itu kurang belajar dan berusahanya. (karna satu kesalahan langsung main justifikasi)
B : oh Itu, soalnya tadi ....
A : Gak usah curcol kamu! (langsung memotong pembicaraan)
B : (T^T) cry, menangis
Siapa sih yang mau salah? Kita sudah berusaha banget padahal. Cuma satu kesalahan seolah salah total.
Sebagai mahasiswa terkadang kita tidak tidur, lupa sarapan, lari-larian, ngantri, dll untuk memperjuangkan kemauan dosen. Tapi dosen tak pernah mau tau duka mahasiswanya. Sedangkan setiap kali dosen berbuat salah hanya berkata
Maaf ya, saya sedang ada urusan. (padahal cuma lagi liat youtube di Kantornya)
Maaf, saya kemarin lupa. (Padahal sudah 2 minggu menyerahkan proposalnya)
Maaf, saya tidak bisa hari ini. (Padahal cuma lagi mainan HP sampai sore)
Maaf, saya sedang keluar kota. (Padahal barusan kepergok 2 kali di Kampus)
Pasal berapa? PERDA yang mana? atau Undang-undang butir keberapa? yang mengatur ketidak adilan ini? Mahasiswa harus pengertian kepada dosen dan dosen tidak perlu pengertian kepada mahasiswa. Dosen selalu benar dan mahasiswa selalu salah.
Allah menitipkan kisah untuk setiap hambanya itu gak selalu sama. Karena itu semena-mena terhadap orang lain juga tidak selalu tepat. Sehingga Allah menciptakan yang namanya empati, untuk digunakan saat mendengar celetukan curcol saudara kita. Beberapa dari mereka bahkan tidak butuh solusi atau nasihat, terkadang mereka cuma butuh empati. Toh empati itu Allah kasih ke kita gratis, ketika kita memberi empati ke orang lain pun tidak lantas membuat kita miskin.

Wallahu Alam




Amanah Guru Dalam Menghadapi Hari Esok

Kekuasaan adalah amanah dari allah, kekuasaan apapun itu! Salah satunya adalah menjadi seorang pendidik atau guru. Karena seorang pendidik adalah orang yang diberi kekuasaan oleh allah. Kekuasaan apa? yaitu bisa sedikit menentukan nasib seseorang. menentukan nasib? Mungkin terdengar berlebihan kan!? Tapi itulah kurang lebih ucapan salah seorang dosen saya. Kalimat bercetak tebal di atas memang tidaklah berlebihan sama sekali. Karena ucapan pendidik bisa mengubah cara pandangan anak didiknya seumur hidupnya. Kalau kata orang Jawa GURU adalah singkatan dari di Guguh dan ditiRU. Hebat sekali, kan pendidik itu . Tidak sampai di situ saja loh. Pendidik juga bisa menentukan nasib anak didiknya melalui administrasi. Yup, melalui nilai akademik dan non akademik siswa.
Sahabat saya (kebetulan seorang pendidik) pernah berkata “goresan pena pendidik adalah goresan nasib dari tuhan.” Seram, kan! Kenapa demikian? seorang anak didik bisa naik kelas atau tinggal kelas karena goresan pena pendidik, seorang anak didik bisa diterima atau tidak di Perguruan tinggi juga karena goresan pena pendidik, seorang anak didik bisa diterima atau tidak pada suatu pekerjaan juga karena goresan pena pendidik, berkat goresan pendidik peradaban bangsa bisa berubah.
Dikarenakan seorang pendidik sangat besar amanahnya untuk sebuah peradaban, maka seorang pendidik sangat perlu mempelajari ilmu-ilmu tentang keguruan dan pendidikan. Hal ini diperlukan karena setiap pendidik itu memiliki psikologi berbeda-beda. Sebenarnya hal yang mendorong saya untuk menulis tulisan ini adalah saya merupakan salah satu korban pendidik yang tidak memahami pendidikan. Sebab kesalahan mendidik bisa berakibat fatal karena sasaran pendidikan adalah manusia. Dampak pendidik yang tidak mengenal ilmu pendidikan adalah lebih mendahulukan ego, pilih kasih, banyak curhat saat di kelas (padahal laki-laki), minta menangnya sendiri, mengajar sesukahati, mengajar hanya untuk absen, kadang yang lebih parah lagi adalah memusuhi anak didiknya, dll.
Tujuan pendidikan adalah memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan akan menyiapkan peserta didik yang memasuki masyarakat di masa depan. Oleh sebab itu, keputusan dan tindakan dalam bidang pendidikan seharusnya berorientasi ke masyarakat masa depan tersebut.


#Kill_LkmHakim





Tidak Tahu Keguruan dan Pendidikan

Pernahkah anda menjumpai pengajar yang tidak mengerti tentang ilmu keguruan dan ilmu pendidikan? Saya yakin sebagian dari anda pernah menjumpainya. Dan pengajar seperti ini sangat tidak layak untuk mengajar. Kebanyakan dari mereka adalah para lulusan murni yang tidak pernah memahami tentang Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Saya pernah mendengarkan ucapan salah seorang dosen saya yang tidak memahami keguruan dan pendidikan, beliau berkata kurang lebih seperti berikut.
“ilmu keguruan dan ilmu pendidikan itu tidak penting dipelajari, karena keadaan kita setiap mengajar sangat berbeda dengan buku. Saya beri sedikit contoh, ada pasien ‘A’ sakit panas. Oleh dokter diberi obat jenis ‘Z’ dan cocok. Kemudian ada pasien B sakit panas juga, oleh dokter diberi obat jenis ‘Z’ ternyata tidak cocok! Padahal menurut buku harusnya cocok. Jadi tidak perlu dipelajari kan! Cukup kondisional saja.”
Entah beliau sadar atau tidak, semua mahasiswa yang beliau ajar adalah mahasiswa keguruan dan jelas mereka mempelajari ilmu pendidikan. Alhasil sebagian mahasiswa ada yang senyum kecut, mengernyitkan dahi, berbisik ke teman sebelah, pandangan kosong (mungkin karna percaya dengan ucapan dosen dan berpikir kesia-siaannya belajar ilmu pendidikan), dll. Pada pertemuan selanjutnya teman-teman saya hanya masuk kuliah untuk menggugurkan kewajiban memenuhi SKS saja. Lalu apa yang teman-teman saya lakukan di kelas? Setahu saya hanya melamun, main HP, dan lain-lain sesuai dengan kekreatifan teman-teman saya menghibur diri di kelas.
Terserah anda mengasumsikan cerita nyata di atas. Yang jelas cara mengajar mereka acak-acakan, tidak paham harus memulai dari mana untuk mengajar, muter-muter sesuai dengan pemahamannya sendiri tanpa sadar tugasnya adalah memahamkan mahasiswanya, banyak curhat tentang kehebatanya, keluarganya, anaknya yang pada intinya tidak ada hubunganya dengan mata kuliah, dll.
Dan ada satu kelakuan yang sangat tidak dibenarkan dalam dunia pendidikan dan sangat harus di hindari oleh para pengajar yaitu Like-Dislike atau bahasa kerennya pilih kasih. Pernah dengar slogan iklan parfum “awalnya begitu memukau, selanjutnya terserah anda.” Inilah sifat yang pasti dimiliki oleh orang-orang yang tidak pernah mengenyam ilmu keguruan dan ilmu pendidikan. Mereka (yang tidak tahu ilmu keguruan dan ilmu pendidikan) pasti tidak bisa obyektif, menilai kemampuan siswa dengan tidak murni. Karena kecampuran dengan perasaan ː̗(^▽^)ː̖ (cie perasaan). Mahasiswa yang berjurusan pendidikan pasti sangat mudah menghadapi pengajar seperti ini. Cukup dengan jangan absen dan sok peduli. Gampang kan! Nilai pasti jaminan bagus deh. Pasti! Saya sudah buktikan berkali-kali.
Guru/Dosen adalah orang tua kedua bagi siswanya. Maka jangan sampai pengajar malah mengibarkan bendera perang dengan anak didiknya. Pendidikan ini tidak akan menjadi baik dengan pengajar yang mengajak bermusuhan atau mempermalukan anak didiknya.


#Kill_LkmHakim.






Selasa, 12 Januari 2016

Kantin Sehat Terbaik

Kerumunan mahasiswa di depan papan pengumuman adalah indikasi telah ada kertas baru yang menempel di papan pengumuman. Entah jadwal baru, pengumuman baru, kebijakan baru, dll. Normalnya mahasiswa ketika melihat kerumunan seperti itu adalah turut memeriahkan acara berdesak-desakan melihat papan pengumuman. Karena hal tersebut normal dan wajar maka sudah pasti saya juga turut andil dalam kerumunan tersebut.
Kamis, 15 oktober 2015. Pada tanggal tersebut saya diharuskan untuk melaksanakan PPK II (Praktek Pembelajaran Keguruan tahap II) atau biasa dikenal dengan sebutan PPL. Saya ditugaskan bersama 18 mahasiswa dari berbagai jurusan untuk melaksanakan PPK II di SMP Negeri 13 Malang. Itulah isi dari sebagian papan pengumuman yang sedang banyak fans. Berhubung saya anak Malang asli, maka yang saya persiapkan sebelum PPK II adalah bersantai dan cuek. Saya pikir saya sudah tahu lokasi SMP negeri 13 Malang dan saya bisa datang sendiri.
***
Pada tanggal tersebut di atas, saya beserta 18 mahasiswa lainnya menuju SMP Negeri 13 Malang untuk melakukan observasi sekolah sebelum melaksanakan PPK II. Hehe pasti sudah banyak yang tahu kan pikiran anak songong tuh kayak gimana. Kira-kira apa yang paling pertama diobservasi? Yups, benar sekali! Sesuai judulnya yaitu Kantin Sekolah . Sebetulnya sih saya datang ke SMP Negeri 13 Malang hanya ingin ikut-ikutan lihat aktivitas mahasiswa yang sedang observasi sekalian berkenalan antar mahasiswa. Maklum, di kampus kita dipisahkan oleh fakultas, jurusan, dan kelas. Dan ehh ternyata, sewaktu masuk ruang tamu sekolah saya tidak sengaja melihat ada piagam atau sertifikat ini
 
Hemm, sayapun langsung berhasrat mencari lokasi tempat yang digadang-gadang sebagai tempat “sehat terbaik” itu. Begitu saya keluar dari ruang tamu ada penunjuk arah bertuliskan kantin. Hemm, sekolah ini seolah ingin mengarahkan saya pada kantin yang dimilikinya saja .
Cap cuz ke Kantin deh. Saya tinggalkan mahasiswa yang lainnya. Saya kira itu adalah keputusan yang tepat. Dan woow, memang bersih banget. Beda dengan kantin sewaktu saya SD, SMP, SMA, bahkan sampai Kuliah.
Berikut penampakan TKPnya





  

Makanannya pun bersih dan hanya makanan berat yang dijual pada kantin ini, dan aturan di kantin ini adalah tidak boleh ada makanan yang berbungkus plastik. Sebagai bentuk peduli lingkungan dan mengurangi pemanasan global. Berikut penampakanya


Rabu, 30 Desember 2015

Sehari Sebelum Zaman baru

 Sehari sebelum tahun 2016 :)
Hemm, lama sekali tak posting tlisan di sini, kangen banget rasanya. Tidak terasa sudah mau meninggalkan tahun 2015 aja. Kurang deh jatah umur dan waktu senang-senang kita. Semoga yang terbaik saja lah di tahun 2016.

Selasa, 25 Agustus 2015

Cukur Rambut

Remembrance jum’at pagi, 22 Mei 2015
Rambut saya waktu itu sudah sangat panjang sekali. Sekitar pukul 10:23 saya putuskan untuk menuju tukang pangkas rambut langganan saya. Kebetulan tukang pangkas rambut ini adalah tetangga yang sudah sangat akrab sekali dengan saya. Kami sama-sama satu kampung tapi berbeda gang dan beda wilayah administrasi RT/RW. Kami sangat akrab karena kami sering bertemu di majelis-majelis pengajian. Walaupun begitu hingga detik ini saya belum tahu siapa nama asli beliau. Teman-teman sering memanggil beliau dengan panggilan akrab—Pak Zen.
Sesampainya di tempat Pak Zen, saya langsung mengucapkan salam sambil berjalan masuk menghampiri jabatan tangan beliau. Beliau mempersilahkan saya antri dengan menyuguhi air mineral dan beberapa koran terbitan terbaru. Seketika saya langsung membolak-balik lembar demi lembar koran. Sedang asiknya saya membaca koran tiba-tiba terdengar teriakan.
“Ayo, Luk!” Pak Zen memanggil, ternyata sudah giliran saya.
Reflek menoleh dan tangan saya otomatis melipat koran dengan lihai bahkan tanpa melihatnya. Saya langsung berdiri dan menuju kursi eksekusi rambut. Pak Zen langsung memasang rompi cukur ketika saya telah duduk. Pak Zen sangat hafal gaya rambut yang saya inginkan. Seketika terdengar suara mesin cukur.
“Kata bapakmu, rambut kamu banyak yang rontok ya?” ucap Pak Zain sambil mengeluskan mesin cukur ke kepala saya.
“Iya pak, kata bapak sih karena lambungku yang lagi bermasalah”
“Memangnya lambungmu kenapa?” serius memandang kepalaku.
“Asam lambungnya tinggi banget mungkin pak, soalnya tiap hari keruyukan terus walau udah makan banyak”
“Ngomong aja kalau gampang lapar” Pak Zen meledek.
“Beneran itu Pak” saya menyeru.
“Bener-bener lapar! Rambut rontok itu ya karna stres lah”
“Stres karna apa juga pak!” saya menegas.
“Ya karna pengen nikah”
“Gak kepikiran nikah cepet kok pak!”
“Coba aja nikah, pasti rambutmu gak akan rontok.”

Walah, kalau dilanjutkan pasti tambah gak karuhan percakapan saya dengan Pak Zain. Dari percakapan saya dengan Pak Zain maka saya menyimpulkan kalau perawakkan saya ini terlihat sudah pantas kalau mau nikah. Hehe simple conclusion.

Sabtu, 15 Agustus 2015

For My Laptop 3

Minggu, 19 Juli 15, pukul 2:54, suasana H+3 lebaran.
Hai Top, malam ini saya terbangun. Ehh salah ya? Hehe maksutnya pagi ini. Biasa Top, karena keliatan masih gelap saya bilang malam. saya tidur jam 23:05, terbangun pukul 2:54 dan tidak bisa tertidur lagi. Mungkin karena bawaan terbiasa iktikaf di malam lailatul Qodar.
Saya ingin berubah menjadi orang yang “Bener” pada bulan Ramadhan kemarin. Dan saya berhasil! Tapi yang saya khawatirkan adalah apakah kebaikkan itu bisa terus langgeng di bulan selain Ramadhan? Saya tahu, kalau kata motivator pasti bisa. It’s only say. Tapi bagi pelakunya/subjek yang harus dengan usaha dan praktek?
Iya saya tahu. tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini. Tapi, ingat Allah selalu mencoba seseorang terlebih dahulu sebelum memberikan keberhasilan. Dan nyatanya banyak orang yang gagal dalam menjalani ujian dari Allah. Kenap? Karena Setan adalah motivator kejelekan paling handal dan paling konsisten dalam kejelekan. Hanya dengan hal-hal kecil dan sepele para subjek yang ingin berubah menjadi baik bisa gagal. Ya kurang lebih kegagalan itu karena bisikan motivator handal tersebut.
Saya memeang masih ragu dengan keinginan saya untuk menjadi orang yang lebih baik setelah bulan Ramadhan ini. Tapi saya akan tetap berusaha menjadi baik!
“Tidak ada yang mampu menjatuhkan usaha kita kecuali dua hal: 1) Murka Allah dan 2) Diri kita sendiri” itu menurut motivator saya yang tergantung di dinding rumah saya—Kalender.

Wow, sudah subuh rupanya. Mari kita sholat dulu! Sudah dulu ya Top. Saya mau ke kamar mandi dulu. Bye.

Selasa, 23 Juni 2015

For My Laptop 1

Hai Top! apa kabar? Batrai kamu rusak ya!? Maaf banget ya Top. Aku belum dapat kerja Top, maksutnya belum punya duwit. Sabar ya Top, pokoknya tetap temani aku terus.
Oh iya Top, hari ini itu hari pertama puasa loh. Tepatnya hari kamis, 18 Juni 2015. Kalau sholat trawihnya udah dari kemarin. Aku ingin dalam bulan Ramadhan tahun ini bisa khatamkan Al Qur’an secara bacaan dan makna. Aku pengen ibadah tertib, sholat malam yang tertib, banyak berdo’a dan tidak takabur. Pokoknya semua kegiatan yang bertujuan mendekat kepada Allah.
Aku sangat butuh keajaiban Top. Kamu percaya keajaiban gak, Top? Percaya atau nggak sih terserah personalnya ya Top. Yang jelas kalau aku sih percaya banget Top. Dan keajaiban itu adalah pertolongan Allah yang hanya bisa didapat melalui Takorub illallah. Mumpung Ramadhan Top, semua amalan dilipatkan oleh Allah. Semoga saja dalam bulan yang barokah ini aku bisa mendekatkan diri kepada Allah.
Oh iya Top, tadi itu aku ada mata kuliah drama loh! Semua temenku lucu-lucu dan keren-keren aktingnya sip lah pokoknya. Emm entah perasaanku saja atau memang nyata, kayaknya semua teman-temanku sangat marah kepadaku. Tapi biarin deh. kalaupun memang mereka bener-bener ngambek ke aku, itu mungkin karna memang aku bener-bener salah di mata mereka. Di sini, dari hati saya mohon maaf dan ampun kepada semua teman-teman saya yang hatinya sudah tersakiti oleh tingkah saya. Saya sangat memohon sekali. Saya betul-betul menyesal. Tapi setiap tindakan saya adalah pilihan yang pasti beresiko. Dan saya sangat punya alasan-alasan untuk mengambil resiko itu. Saya sangat menyadari bahwa every one only look my outside. Tapi tidak pernah mengeti sedikitpun atau bahkan tidak mau tahu Inside dari diri dan kehidupan saya. Dan yang lebih mengesalkan, sifat barusan itu adalah manusiawi.
Jika diuraikan seperti berikut:
  • Setiap manusia pasti punya masalah.
  • Setiap masalah adalah manusiawi.
  • Setiap orang tidak mau tahu dengan masalah orang lain.
Sudah bisa menganalogi? Atau mengkorelasikan secara biasa? Setahu saya hal ini adalah kutukan bagi setiap manusia modern. Yaitu setiap manusia punya masalah dan dia tidak peduli dengan perasaan orang yang memiliki masalah. Padahal dia juga punya masalah dan merasa terbebani dengan masalah.
Keren kan Top! Itulah manusiawi yang wajar tapi aneh hehe Bayangkan saja kalau setiap manusia selalu bisa memberi keringanan kepada setiap manusia yang lain. Pasti tangan Allah turut campur di dalamnya.
Udah dulu ya Top. Rencananya, tadi sih mau curhat sambil ngabuburit. Tapi waktu sangat cepat banget sih. Ya udah deh. Bye-bye top. Thanks udah nemenin ngabuburit di awal puasa ini.
Assalamu alaikum.

Selasa, 09 Juni 2015

Not Important

22:31, Minggu, 07 Juni 2015
Tulisan ini memang tidak penting sekali, sejak awal saya himbau untuk tidak membacanya. Karna buang-buang waktu saja. Saya berani bersumpah kalau tulisan ini tidak penting. Mending baca artikel-artikel yang lain saja :D. Suwerrr nulisnya tuh sambil ngelantur.
Sadar ataupun tidak sadar saya sedang menata diri. Yang paling saya sadari adalah saya ingin perfect. Bahkan saya masih mencari jati diri. Saya sangat merasa jauh dari dewasa.
Setiap malam saya selalu teringat kejadian seharian penuh, bahkan semua kejadian yang sudah lewat. Contohnya malam ini, saya sangat ingat dengan seorang perempuan yang bertugas melayani validasi pembayaran mahasiswa. Beliau masih muda sekali, mungkin baru berumur 29 tahunan. Saya teringat beliau bukan karna tertarik lawan jenis atau kecantikanya. Tapi karna saya diomelin dengan sangat ketus. Padahal saya hanya menanyakan informasi mengenai kegiatan kampus.
Saya memang suka protes dan mengomel. Cara pandang sayapun berbeda dengan kebanyakan laki-laki. Hufz, saya sampai bingung harus meniru kesempurnaan mereka.
Berikut kata-kata yang sangat saya ingat dari para cendikiawan.
“aku ngantuk didongengin”
“Protesan”
“Move topic yuk”
“Urusan orang”
Saya sangat menyadari sekali bahwa teman-teman yang berada di sekitar saya sangat tidak nyaman dengan keberadaan saya. Mungkin bukan hanya saya, tapi hampir semua orang juga bisa merasakan seperti itu.

Semoga saya bisa menjadi pribadi sebelumnya—diam.

Potong Rambut


Remembrance jum’at pagi, 22 Mei 2015
Rambut saya waktu itu sudah sangat panjang sekali. Sekitar pukul 10:23 saya putuskan untuk menuju tukang pangkas rambut langganan saya. Kebetulan tukang pangkas rambut ini adalah tetangga yang sudah sangat akrab sekali dengan saya. Kami sama-sama satu kampung tapi berbeda gang dan beda wilayah administrasi RT/RW. Kami sangat akrab karena kami sering bertemu di majelis-majelis pengajian. Walaupun begitu hingga detik ini saya belum tahu siapa nama asli beliau. Teman-teman sering memanggil beliau dengan panggilan akrab—Pak Zen.
Sesampainya di tempat Pak Zen, saya langsung mengucapkan salam sambil berjalan masuk menghampiri jabatan tangan beliau. Beliau mempersilahkan saya antri dengan menyuguhi air mineral dan beberapa koran terbitan terbaru. Seketika saya langsung membolak-balik lembar demi lembar koran. Sedang asiknya saya membaca koran tiba-tiba terdengar teriakan.
“Ayo, Luk!” Pak Zen memanggil, ternyata sudah giliran saya.
Reflek menoleh dan tangan saya otomatis melipat koran dengan lihai bahkan tanpa melihatnya. Saya langsung berdiri dan menuju kursi eksekusi rambut. Pak Zen langsung memasang rompi cukur ketika saya telah duduk. Pak Zen sangat hafal gaya rambut yang saya inginkan. Seketika terdengar suara mesin cukur.
“Kata bapakmu, rambut kamu banyak yang rontok ya?” ucap Pak Zain sambil mengeluskan mesin cukur ke kepala saya.
“Iya pak, kata bapak sih karena lambungku yang lagi bermasalah”
“Memangnya lambungmu kenapa?” serius memandang kepalaku.
“Asam lambungnya tinggi banget mungkin pak, soalnya tiap hari keruyukan terus walau udah makan banyak”
“Ngomong aja kalau gampang lapar” Pak Zen meledek.
“Beneran itu Pak” saya menyeru.
“Bener-bener lapar! Rambut rontok itu ya karna stres lah”
“Stres karna apa juga pak!” saya menegas.
“Ya karna pengen nikah”
“Gak kepikiran nikah cepet kok pak!”
“Coba aja nikah, pasti rambutmu gak akan rontok.”

Walah, kalau dilanjutkan pasti tambah gak karuhan percakapan saya dengan Pak Zain. Dari percakapan saya dengan Pak Zain maka saya menyimpulkan kalau perawakkan saya ini terlihat sudah pantas kalau mau nikah. Hehe simple conclusion.